Jumat, 20 Oktober 2017

Rindunya para pandu

By : Juriah Ristiani

Akanku sampai berbagai curahan hati
Lewat tawaku
Lewat candaku
Lewat senyumanku

Apa yang kau rasa?
Ketika pluit itu dibunyikan?
Ketika unggun itu dinyalakan?
Ketika tongkat itu satu persatu kau ikat?
Ketika tenda itu kau bangun?

Akan ku jelaskan apa yang ku rasakan


Pluit itu berbunyi
Tandanya harus siap hati
Menyikapi segala perlakuan diri
Kau tau itu sangat berarti

Pluit itu berbunyi
Aku tepat berada disampingmu
Menikmati suasana itu
Kau tak tau ada harapan dari hati

Pluit itu berbunyi
Bunyinya nyaris tak ku dengar
Karena hanya detak jantungku yang saat itu terdengar
Berdegup kencang
Berbisik tentang rindu


Unggun

Unggun itu dinyalakan
Petanda semangat sorak poranda kami untuk bangsa
Unggun itu melambangkan semangat
Termasuk semangatku saat berkemah bersamamu

Unggun itu menyala
Nyalanya membakar semua semangat
Nyalanya membakar api asmara

Unggun itu menyala
Memberi kehangatan
Memberi penerangan

Kau harus tau
Unggun itu telah mencairkan hatimu yang dingin ketika itu

Saat tongkat satu persatu diikat
Ikatan yang memiliki filosofis tersendiri
Kita tlah mengikat tongkat yang sama
Kapan kita sama-sama mengikat hati?

Kapankah aku mengagumimu?

Aku mengagumimu
Sesaat sebelum pluit itu ditiup
Sesaat sebelum unggun itu menyala
Sesaat sebelum semua tongkat kita ikat membentuk sebuah bangunan
Sesaat sebelum tenda itu dibangun

Pluit itu mengisyaratkan siapnya hatiku
Unggun itu mengisyaratkan semangat dan hangatnya hati
Ikatan itu mengisyaratkan eratnya cinta kita
Tenda itu mengisyaratkan kau adalah rumahku

Aku rindu berkemah
Dan diantara rinduku
Adalah berkemah bersamamu

Kamis, 19 Oktober 2017

Mari bersua (Poem/Poetry/Puisi)

By : Juriah Ristiani

Coba lihat ke Cermin

Amati dengan teliti
Milik siapa rindu itu? 
Aku! 

Aku ingin bercerita pada malam
Pada kenangan yang selalu tenggelam dalam bayangan
Pada dinginnya malam yang membawamu pergi
Pada hangatnya unggun yang membuatmu kembali lagi 

Dengarkan sebuah cerita

Malam ini amat dingin
Dinginnya merasuk sukma
Akupun ingin bertanya tentang rasa 
Adakah setitik rindu yang kau rasa? 

Ingatkah kau
Kala itu, di dinginnya malam 
Kau slalu menemaniku 
Lewat canda-tawamu yang menghangatkan

Dulu ketika unggun menyala 
Sorak sorak dan tepuk tangan gemuruh
Serta senyuman yg menghangatkan

Kini, unggun itu tak mempan
Kau pergi menjauh
Dinginnya malam ditemani unggun tak memberi pengaruh 
Mungkin dingin dibadanku hilang
Tapi bagaimana dengan dinginnya dirimu? 

Dua pasang insan yang telah lama menjalani masa-masanya pun akan berpisah
Mungkin mereka saling mencinta
Namun lelah dimakan oleh masa

Apalagi kita, yang tak berdampingan
Yang tak akan saling memiliki 
Kita akan lebih dimakan oleh masa

Aku
Salam untuk seseorang yg singgah dihatimu itu
Sampaikan 
Bahwa aku pernah bodoh menyianyiakan mu
Namun, aku lebih dulu mencintaimu dengan ikhlas 

-budaksajak
-sejuksejaksajak
-sajaklama
-njur