By : Juriah Ristiani
Akanku sampai berbagai curahan hati
Lewat tawaku
Lewat candaku
Lewat senyumanku
Apa yang kau rasa?
Ketika pluit itu dibunyikan?
Ketika unggun itu dinyalakan?
Ketika tongkat itu satu persatu kau ikat?
Ketika tenda itu kau bangun?
Akan ku jelaskan apa yang ku rasakan
Pluit itu berbunyi
Tandanya harus siap hati
Menyikapi segala perlakuan diri
Kau tau itu sangat berarti
Pluit itu berbunyi
Aku tepat berada disampingmu
Menikmati suasana itu
Kau tak tau ada harapan dari hati
Pluit itu berbunyi
Bunyinya nyaris tak ku dengar
Karena hanya detak jantungku yang saat itu terdengar
Berdegup kencang
Berbisik tentang rindu
Unggun
Unggun itu dinyalakan
Petanda semangat sorak poranda kami untuk bangsa
Unggun itu melambangkan semangat
Termasuk semangatku saat berkemah bersamamu
Unggun itu menyala
Nyalanya membakar semua semangat
Nyalanya membakar api asmara
Unggun itu menyala
Memberi kehangatan
Memberi penerangan
Kau harus tau
Unggun itu telah mencairkan hatimu yang dingin ketika itu
Saat tongkat satu persatu diikat
Ikatan yang memiliki filosofis tersendiri
Kita tlah mengikat tongkat yang sama
Kapan kita sama-sama mengikat hati?
Kapankah aku mengagumimu?
Aku mengagumimu
Sesaat sebelum pluit itu ditiup
Sesaat sebelum unggun itu menyala
Sesaat sebelum semua tongkat kita ikat membentuk sebuah bangunan
Sesaat sebelum tenda itu dibangun
Pluit itu mengisyaratkan siapnya hatiku
Unggun itu mengisyaratkan semangat dan hangatnya hati
Ikatan itu mengisyaratkan eratnya cinta kita
Tenda itu mengisyaratkan kau adalah rumahku
Aku rindu berkemah
Dan diantara rinduku
Adalah berkemah bersamamu
Jumat, 20 Oktober 2017
Kamis, 19 Oktober 2017
Mari bersua (Poem/Poetry/Puisi)
By : Juriah Ristiani
Coba lihat ke Cermin
Amati dengan teliti
Milik siapa rindu itu?
Aku!
Aku ingin bercerita pada malam
Pada kenangan yang selalu tenggelam dalam bayangan
Pada dinginnya malam yang membawamu pergi
Pada hangatnya unggun yang membuatmu kembali lagi
Dengarkan sebuah cerita
Malam ini amat dingin
Dinginnya merasuk sukma
Akupun ingin bertanya tentang rasa
Adakah setitik rindu yang kau rasa?
Ingatkah kau
Kala itu, di dinginnya malam
Kau slalu menemaniku
Lewat canda-tawamu yang menghangatkan
Dulu ketika unggun menyala
Sorak sorak dan tepuk tangan gemuruh
Serta senyuman yg menghangatkan
Kini, unggun itu tak mempan
Kau pergi menjauh
Dinginnya malam ditemani unggun tak memberi pengaruh
Mungkin dingin dibadanku hilang
Tapi bagaimana dengan dinginnya dirimu?
Dua pasang insan yang telah lama menjalani masa-masanya pun akan berpisah
Mungkin mereka saling mencinta
Namun lelah dimakan oleh masa
Apalagi kita, yang tak berdampingan
Yang tak akan saling memiliki
Kita akan lebih dimakan oleh masa
Aku
Salam untuk seseorang yg singgah dihatimu itu
Sampaikan
Bahwa aku pernah bodoh menyianyiakan mu
Namun, aku lebih dulu mencintaimu dengan ikhlas
-budaksajak
-sejuksejaksajak
-sajaklama
-njur
Langganan:
Komentar (Atom)